K I T A B   S U C I
[VER] : [KITABSUCI]
[TAURAT]  [ZABUR]  [INJIL] 
[ARTIKEL]

<<  Keluarga Sakinah >> 
Halaman 8

Sesi 8: Suami yang Sholeh (2)

1. Menghibur Istri

At Taurat, Surah 1 Samuel 1:8

8Elkana, suaminya, berkata kepadanya, “Hana, mengapa engkau menangis? Mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa susah hatimu? Bukankah aku lebih berarti bagimu daripada sepuluh orang anak laki-laki?”

2. Berunding dengan Istri

At Taurat, Surah Kejadian 31:4-7

4Lalu Yakub menyuruh orang memanggil Rahel dan Lea ke padang, ke tempat kawanan kambing dombanya. 5Katanya kepada mereka, “Kuperhatikan wajah ayahmu tidak seramah dahulu lagi terhadapku. Namun, Tuhan ayahku menyertaiku.” 6Kamu tahu bahwa dengan sekuat tenaga aku telah mengabdi pada ayahmu. 7Meskipun begitu, ayahmu telah menipu aku. Ia mengubah upahku sampai sepuluh kali. Akan tetapi, Allah tidak mengizinkannya berbuat jahat terhadap aku.

3. Tidak Boleh Meninggalkan Istri, Meskipun Ia Tidak Beriman

Al Injil, Surah 1 Korintus 7:10-16

10Sedangkan kepada orang-orang yang sudah menikah, demikianlah pesanku (sesungguhnya bukan aku, melainkan Tuhan yang berpesan): Janganlah istri memisahkan diri dari suaminya. 11Tetapi jika ia sudah terlanjur meninggalkan suaminya, hendaklah ia tetap tinggal dalam keadaan tidak bersuami, atau berdamai dengan suaminya. Demikian pula, janganlah suami menceraikan istrinya. 12Kepada yang lainnya, aku, bukan Tuhan, berkata: Jika ada seorang saudara seiman telah beristrikan orang yang tidak beriman, sedangkan istrinya itu tetap mau hidup bersama-sama dengannya, janganlah ia menceraikannya. 13Demikian pula halnya dengan perempuan yang telah bersuamikan orang yang tidak beriman. Jika suaminya itu tetap mau hidup bersama-sama dengannya, janganlah ia meninggalkannya. 14Karena suami yang tidak beriman itu telah disucikan oleh istrinya dan istri yang tidak beriman itu telah disucikan oleh suaminya. Jika tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak-anak najis. Tetapi sekarang mereka adalah anak-anak yang suci. 15Akan tetapi, jika orang yang tidak beriman itu mau memisahkan diri, biarkanlah mereka berpisah. Dalam hal ini, saudara atau saudari kita yang seiman itu sudah tidak terikat lagi. Tetapi kita dipanggil Allah untuk hidup dalam perdamaian. 16Karena hai istri, bagaimana kamu dapat mengetahui kalau-kalau kamu akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimana kamu dapat mengetahui, hai suami, kalau-kalau kamu akan menyelamatkan istrimu?

4. Tidak Mencampuradukan Iman dengan Kewajibannya sebagai Suami

Al Injil, Surah Lukas 14:26 ;

26“Barangsiapa datang kepada-Ku tetapi tidak membenci ayahnya, ibunya, istrinya, anakanaknya, saudara-saudaranya laki-laki, saudara-saudaranya perempuan, bahkan dirinya sendiri, ia tidak dapat menjadi pengikut-Ku.

Al Injil, Surah Matius 19:29

29Barangsiapa meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, saudaranya perempuan, ayahnya, ibunya, anak-anaknya, atau ladangnya oleh karena nama-Ku, ia akan mendapatkannya kembali seratus kali lipat serta akan mewarisi hidup yang kekal.