K I T A B   S U C I
[VER] : [KITABSUCI]
[TAURAT]  [ZABUR]  [INJIL] 
[ARTIKEL]

<<  Maaf yang Hakiki >> 
Halaman 6

Nabi Isa: Memaafkan dari Hati

Karena kita hidup sebagai ukuwah dengan saudara kita, dekat dengan mereka, kita akan mengetahui kesalahan orang-orang lain dan merekapun akan mengetahui kesalahan kita. Oleh karena itu, kita harus belajar memaafkan dengan segenap hati.

KSI, Surah Matius 18

21Kemudian Petrus mendekati Isa dan bertanya, “Ya Junjungan, berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku yang bersalah kepadaku? Sampai tujuh kalikah?” 22Sabda Isa kepadanya, “Aku berkata kepadamu, bukan hanya tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh.

23Sebab Kerajaan Surga itu dapat diibaratkan dengan seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan para hambanya. 24Ketika ia memulainya, dibawalah ke hadapannya seorang hamba yang berutang sebanyak lima puluh juta keping uang perak. 25Karena hamba itu tidak dapat membayar utangnya, maka sang tuan memerintahkan agar ia beserta anak-anaknya, istrinya, dan segala miliknya dijual untuk membayar utang-utangnya itu. 26Maka sujudlah hamba itu menyembahnya dan berkata, ‘Sabarlah ya Tuan, aku akan membayar semuanya.’ 27Melihat hal itu, ibalah hati sang tuan terhadap hambanya itu, sehingga ia membebaskan hamba itu dari semua utangnya.

28Tetapi ketika hamba itu keluar dan bertemu dengan kawannya yang berutang kepadanya sebanyak seratus keping uang perak, ia menangkap dan mencekik kawannya itu serta berkata, ‘Bayarlah utangmu!’ 29Maka sujudlah kawannya itu serta meminta kepadanya, ‘Sabarlah, aku akan membayarnya.’ 30Tetapi ia menolaknya, bahkan kawannya itu dijebloskannya ke dalam penjara sampai utangnya dibayar.

31Melihat hal itu, kawan-kawannya yang lain menjadi sangat sedih lalu menceritakan semua hal yang terjadi kepada tuan mereka. 32Mendengar hal itu, tuan itu pun segera memanggil hamba yang telah dibebaskan utangnya itu dan berkata, ‘Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu sudah kuhapuskan karena engkau memintanya kepadaku. 33Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu itu seperti aku sudah mengasihanimu?’ 34Tuannya itu menjadi sangat marah lalu menyerahkan hamba yang jahat itu kepada algojo-algojonya sampai ia membayar semua utangnya.

35Maka begitu jugalah akan dilakukan oleh Bapa-Ku yang di surga jika kamu tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Mengapa saya sulit memaafkan? Karena saya tinggal dekat orang lain yang sering memanas-manasi saya, karena kejahatan itu ada dalam diri saya dan dalam diri orang-orang yang dekat dengan saya.

Petrus merasa dia sudah melapangkan dada. Dia siap mengampuni bukan sekali tetapi 7 kali lipat, yang kontras dengan caranya Kabil membalas 7 kali lipat. Tetapi Isa ingin lebih dari pada itu. Dia ingin setiap kesalahan diampuni 70 x 7 kali lipat, yang kontras dengan caranya Lamekh membalas kesalahan 70 x 7 kali. Maka memaafkan itu sulit dan tolok ukurnya tinggi yang dianjurkan oleh Isa. Apakah hal ini mustahil?

Kita ingat firman Allah kepada Kabil, “Kamu harus menguasai (dosa itu). Kalau tidak menguasainya, godaan itu berpotensi menghasilkan dosa yang merugikan dirinya dan orang lain.”

Isa mengajar kita untuk menguasai godaan, mulai dari hati. Ada orang bijak yang mengatakan, “Di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, baiklah seluruh tubuh manusia. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusak seluruh tubuh manusia. Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan segumpal daging itu ialah hati manusia. Jika hati manusia itu baik, baik seluruh sikap tubuhnya. Dan jika hatinya itu buruk, maka buruklah seluruh sikapnya.

Yang menentukan keadaan hati menurut perumpamaan Isa ialah bahwa manusia mengingat betapa besarnya kesalahannya sendiri, dan walaupun demikian, bagaimana dia menerima pengampunan dan penyucian dari Allah. Dengan menerima pengampunan dan penyucian dari Allah, sebagai modal untuk menghapus hutang orang lain, yaitu, Allah Maha Pemaaf yang memampukan kita untuk mengampuni kesalahan sesamanya.