K I T A B   S U C I
[VER] : [KITABSUCI]
[TAURAT]  [ZABUR]  [INJIL] 
[ARTIKEL]

<<  Maaf yang Hakiki >> 
Halaman 9

Rasul Yakub: Menghakimi Itu Musyrik

KSI, Surah Yakub 4

1Dari manakah asalnya perselisihan dan perkelahian yang terjadi di antara kamu? Bukankah hal itu datang dari segala hawa nafsu yang saling berperang dalam anggota-anggota tubuhmu? 2Kamu mempunyai keinginan, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu mendengki, tetapi kamu tidak juga mampu mendapatkannya, kemudian kamu berkelahi dan bersengketa. Kamu tidak beroleh sesuatu sebab kamu tidak memintanya dalam doa. 3Kamu meminta, tetapi kamu tidak menerima; sebab permintaanmu itu salah, yaitu hanya demi memenuhi hawa nafsumu. 4Hai kamu, orang-orang yang tidak setia bagaikan perempuan sundal, tidak tahukah kamu bahwa persahabatan dengan dunia adalah perseteruan dengan Allah? Sebab itu barangsiapa ingin menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya seteru Allah. 5Atau kamu menyangka bahwa Kitab Suci mengatakan hal yang omong kosong ketika disebutkan, “Ruh yang ditempatkan di dalam kamu menginginkan kamu dengan cemburu”? 6“Allah melawan orang-orang yang sombong, tetapi dianugerahkan-Nya rahmat kepada orang-orang yang rendah hati.” 7Sebab itu tunduklah kepada Allah, lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu. 8Dekatilah Allah, maka Ia pun akan mendekatimu. Bersihkanlah tanganmu, hai para pendosa, dan sucikanlah hatimu, hai orang-orang yang mendua hati! 9Hendaklah kamu bersedih, meratap, dan menangis; hendaklah tawamu kamu ubah menjadi ratapan dan kegembiraanmu menjadi duka. 10Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, maka Ia akan meninggikan kamu. 11Hai Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah. Orang yang memfitnah atau menghakimi saudaranya berarti mencela dan menghakimi hukum. Jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah pelaku hukum melainkan hakimnya. 12Padahal hanya ada satu Pemberi Hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Sedangkan engkau ini siapa, hai orang yang ingin menghakimi sesamamu manusia?

Konflik antara manusia dan godaan untuk membunuh karakter orang lain memunculkan pertanyaan, “Dari mana datangnya konflik dan kejahatan?” Dari hawa nafsu sendiri yang tidak terpuaskan. Di mana ada konflik, kita cenderung mempersalahkan pihak lain, padahal masalahnya mulai dengan diri sendiri. Firman Allah menganjurkan kita agar introspeksi diri, kemudian keinginan kita diserahkan kepada Allah dalam do’a. Pada dasarnya, orang yang sombong akan dilawan oleh Allah, tetapi orang yang rendah hati akan ditinggikan oleh Allah. Maka, kita tidak perlu peduli terhadap penilaian orang lain, melainkan penilaian Allahlah yang sangat menentukan masa depan kita. Hakim dari manusia ialah musyirik, karena menyamakan dirinya dengan Allah, satu-satunya Hakim. Kesombongan membuat kita berdua hati, dan membuka pintu kepada serangan Syaitan, sebab berdua hati ialah syirik. Ujian, rintangan, tantangan dan masalah itu merupakan hal baik bagi orang yang beriman agar mereka belajar hanya mengandalkan Tuhan saja. Hanya Tuhan berhak menghakimi orang-orang yang Dia ciptakan. Sikap hati kita harus suci, dengan mendekatkan dirinya kepada Allah. Kemudian serahkan semua konflik dan masalah kepada Dia untuk menyelesaikannya. Hal ini dimulai dengan meratapi apa yang kurang baik dalam diri kita.